Free Paysite Passwords!
Enter Here For Your Free Uncensored Passwords!

http://adult.pornparks.com/kedaisex/

KEDAI CERITA

PILIHAN UTAMA ANDA DI ALAM SIBER!! MENYAJIKAN PELBAGAI BAHAN LUCAH UNTUK SANTAPAN JIWA ANDA

Babysitter
< - - - - - - - - - - >

Aku dilahirkan dalam keluarga yang agak berada, papaku sibuk dengan urusan pejabatnya dan mamaku sibuk dengan urusan bershopping ke sana dan sini menghabiskan duit papaku. Manakala aku dibesarkan oleh seorang baby sitter yang bernama Marni. Aku panggil dengan Kak Marni.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 saat aku lulus sekolah swasta di KL. Pada waktu itu kawan-kawanku datang ke rumahku, sementara papa dan mama tidak ada di rumah. Adi, Danny, Abe dan Hafiz datang ke rumahku, kami berlima sepakat untuk menonton VCD porno yang dibawa oleh Adi, yang memang kakak iparnya mempunyai kedai menyewa VCD di rumahnya. Adi membawa 4 film porno dan kami serius menontonnya. Tanpa diduga Kak Marni mengintip kami berlima yang sedang menonton, waktu itu usia Kak Marni 28 tahun dan belum menikah, karena Kak Marni sejak berumur 20 tahun telah menjadi baby sitterku. Kak Marni mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat dan tidak ketahuan oleh keempat temanku.

"Maaf ya, aku nak keluar kejap..."
"Ya... ya.. tapi tolong ditutup pintunya ya", jawab keempat temanku.
"Ya, nanti kututup rapat", jawabku.
Aku keluar dan mendapati Kak Marni di tepi pintuku dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Hmm.. hmmm, Jai", Kak Marni menegurku seraya membetulkan posisi berdirinya.
"Ada apa Kak mengendapJai dan kawan-kawan?" tanyaku keheranan.
Hatiku berkata bahawa ini kesempatan untuk dapat melakukan segala hal yang tadi kutonton di VCD porno.

Perlahan-lahan kukunci kamarku dari luar dan aku berpura-pura marah terhadap Kak Marni.
"Kak, kenapa mengendap aje.... masuk lah sekali?"
"Hmm.. hmmm, Kak nak buatkan minuman untuk teman-teman Jai", jawabnya.
"Nanti aku bagitau papa dan mama , yang Kak Marni ngintip Jai", ancamku, sambil aku turun ke bawah, bilikku berada di tingkat atas.

Kak Marni mengikutku ke bawah, setibanya di bawah aku berkata lagi, "kak ngintip saya dan teman-teman itu kenapa?" tanyaku.
"Kak, ingin buatkan minuman untuk teman - teman Jai."
"Tapi, Kak tak membawa minuman ke atas?", tanyaku dan memang Kak Marni ke atas tanpa membawa minuman.
"Hmmm.. Hmmm.." ucap Mbak Marni mencari alasan yang lain.

Dalam kebingungan Kak Marni mencari alasan yang lain, tanpa disedari olehnya, dengan seksama aku melihat dan membayangkan bentuk tubuh dan payudara Mbak Marni yang ranum dan seksi itu. Dan tiba-tiba aku memberanikan diri untuk melakukan permainan yang telah kutonton tadi.

"Sini kak!"
"Lebih dekat lagi"
"Lebih dekat lagi lah.."

Kak Marni mengikuti perintahku dan dirinya sudah dekat sekali denganku, terasa payudaranya yang ranum telah menyentuh dadaku yang naik turun oleh deruan nafsu. Aku duduk di meja makan sehingga Kak Marni berada di selangkanganku.

"Jai nak apa?", tanyanya.
"Jai,.. nak buat apa dekat kakak?", tanyanya lagi, ketika aku memegang bahunya untuk didekatkan ke celah selangkangku.
"Jangan banyak tanya", jawabku sambil aku melingkari kakiku ke pinggulnya yang seksi.
"Jangan Jai.. jangan ", pintanya untuk menghentikanku membuka kancing baju baby sitterku.
"Jangan Jai, jangan..." tolaknya tapi tanpa menghalang tanganku yang membuka satu persatu kancing bajunya.

Sudah empat kancing kubuka dan aku melihat bukit kembar di hadapanku, putih mulus dan mancung terbungkus oleh branya yang berenda. Tanpa kuberi kesempatan lagi untuk mengelak, kupegang payudara Kak Marni dengan kedua tanganku dan kupermainkan puting susunya yang berwarna coklat muda dan kemerah-merahan.

"Jangan .. jangaaan Jai"
"Akh.. akh... jangaaan, jangan Jai"
"Akh.. akh.. akh"
"Jangan.. Jaiiiiiiii"

Aku mendengar Kak Marni mendesah-desah, aku terus mengulum puting susunya yang kutahu belum pernah dipegang dan di kulum oleh seorang lelaki pun. Aku memasukkan seluruh buah dadanya yang ranum ke dalam mulutku sehingga terasa sesak dan penuh mulutku. "Okh.. okh.. Jai.. Jai.. jangan ber.." tanpa mendengarkan kelanjutan dari desahan itu kumainkan puting susunya dengan gigiku, kugigit pelan-pelan. "Ohk.. ohk.. ohk.." desahan nafas Kak Marni seperti lari 12 kilo meter. Kupegang tangan Kak Marni untuk membuka seluar dalamku dan memegang kemaluanku. Tanpa diduga, Kak Marni memegang kemaluanku dan melakukan gerakan mengocok dari ujung kemaluanku sampai pangkal kemaluan, sementara mulutku terus mengulum-ngulum payudaranya.

"Okh.. okh.. Kak.. Kaaaaak"
"Terusss.. sss.. kak"
"Jaiiiii.. Jaaaiiiiii, saya.. saya.. ooh.. terus jai.. enakh Jaiii"

Mendengar itu lalu aku turun ke lantai dan kutolak Kak Marni tidur di bawah meja makan. Kak Marni telentang di lantai dengan payudara yang menantang, tanpa kusia-siakan lagi kuberanikan diri untuk meraba selangkangan Kak Marni. Aku singkapkan pakaiannya ke atas dan kuraba-raba, aku merasakan bahwa seluar dalamnya sudah basah. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam pantiesnya dan aku merasakan adanya bulu-bulu halus yang basah oleh cairan liang cicapnya.

"Kak..... Jai buka ya." Kak Marni hanya mengangguk dua kali. Sebelum kubuka, aku mencoba memasukkan telunjukku ke dalam liangcicapnya. Jari telunjukku telah masuk separuhnya dan kugerakkan telunjukku seperti aku memanggil kucingku.

"Shs.. shss.. sh"
"Cepat buka Jai", pinta Kak Marni.
Kubuka seluarnya dan kulempar ke atas kerusi makan, aku melihat kemaluannya yang masih original dan belum terjamah serta bulu-bulu yang teratur rapi. Aku mulai teringat akan film VCD porno yang kutonton dan kudekatkan mulutku ke liang cicapnya. Perlahan-lahan kumainkan lidahku di sekitar liang cicapnya, ada rasa masam di lidahku dan kuberanikan lidahku untuk memainkan bahagian dalam liang cicapnya. Kutemukan adanya daging tumbuh seperti kutil di dalam liang kenikmatannya, kumainkan daging itu dengan lidahku.

"Mmmmm.. Jaiiii.."
"Kak nak kellluaaar..."
Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan "keluar", tetapi aku semakin giat memainkan daging tumbuh tersebut, tanpa kusedari ada cairan yang keluar dari liang cicapnya yang kurasakan di lidahku, kulihat liang cicap Kak Marni telah basah dengan campuran air liurku dan cairan cicapnya. Lalu aku merubah posisiku dengan berlutut dan kuarahkan batang kemaluanku ke lubang cicapnya, karena sejak tadi kemaluanku sudah tegang. "Slepp.. slepp" Aku merasakan kehangatan luar biasa di kepala kemaluanku.

"Jaii.. Jaaiiii pellannn sikit.." katanya. Kutekan lagi kemaluanku ke dalam liang cicapnya. "Sleep.. sleep" dan, "Heck.. heck", suara Kak Marni tertahan saat kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam liang cicapnya. "Jaiii.. Jaiiii.. pelaaan.." katanya lagi. Nafsu birahiku telah sampai ke kepala dan aku tidak mendengar ucapan Kak Marni. Maka kupercepat gerakanku. "Heck.. heck.. heck.. tolong.. tolllong Jai pelan-pelan" katanya meminta. Tak lama kemudian, "Jaiii,.. Kak nak keluaaar laaagiii" Bersamaan dengan itu kurasakan desakan yang hebat dalam kepala kemaluanku yang telah disemprot oleh cairan cicap Kak Marni. Maka kutekan sekuat-kuatnya kemaluanku untuk masuk seluruhnya ke dalam liang cicap Kak Marni. Kudakap erat tubuh Kak Marni sehingga agak tersengal-sengal, tak lama kemudian, "Croot.. crooot" spermaku masuk ke dalam cicap Kak Marni.

Setelah Kak Marni dua kali keluar dan aku pun sudah keluar, Kak Marni lemas di sampingku. Dalam keadaan lemas aku naik ke dadanya dan aku minta untuk dibersihkan kemaluanku dengan mulutnya. Dengan segera Kak Marni menurut permintaanku. Sisa spermaku disedut oleh Kak Marni sampai habis ke dalam mulutnya. Kami melakukan kira-kira selama satu jam, tanpa kusedari teman-temanku memanggil - manggil karena pintu bilikku kukunci sewaktu aku keluar tadi. "Jai.. tolong buka pintunya" Maka cepat-cepat kuminta Kak Marni menuju ke biliknya untuk berpura-pura tidur dan aku naik ke atas membukakan pintu bilikku. Bertepatan dengan aku ke atas mamaku pulang naik teksi. Dan teman-temanku diminta untuk makan oleh mamaku lalu kusuruh pulang.

Setelah seluruh temanku pulang dan mamaku berehat di kamar menunggu papa pulang. Aku ke kamar Kak Marni untuk meminta maaf, atas perlakuanku yang telah meragut daranya.
"Kak, Maafkan Jai ya!"
"Tak mengapa, Kak tak kisah"
"Dara kak lebih baik diambil Jai dari pada sama orang lain", jawab Kak Marni. Dengan kerelaannya tersebut maka, kelakuanku makin hari makin manja terhadap baby sitter yang merawatku semenjak usiaku sembilan tahun. Sejak kejadian itu kuminta Kak Marni main berdiri, main di taman, main di tangga dan mandi bersama, dan Kak Marni bersedia melakukannya.

Hingga suatu saat benar-benar terjadi, Kak Marni mengandung akibat perbuatanku dan aku ingat waktu itu aku kelas dua SMA. Papa dan mamaku memarahiku, karena hubunganku dengan Kak Marni yang cantik wajahnya dan putih kulitnya akhirnya mereka ketahui. Aku dipisahkan dengan Kak Marni, Kak Marni dicarikan suami untuk menjadi bapak dari anakku tersebut.

Sekarang aku kadang-kadang masih merindukan saat bersama dengan Kak Marni, karena aku belum mendapatkan wanita yang sesuai untukku. Itulah kisahku para pembaca, sekarang aku sudah bekerja di pejabat ayahku sebagai salah satu ketua dan aku sedang mencari ke mana Kak Marni pergi, baby sitterku tersayang dan bagaimana kabarnya anak kecilku.

< - - - - - - - - - - >

2003 © KEDAI SEX

Webmasters, Want Fast Free Adult Hosting?
Click Here For A Free PornParks Account!
Acceptable Use Policy